Minggu, 17 Oktober 2010

bicara tentang media yang??..

        Meski sedikit sungkan, saya enggan menggosipkan ini semua, tapi "media" sedang dalam keadaan RAWAN BAHAYA dan diakui oleh pengamat kita kali ini..Semua media massa hakikatnya melakukan kebohongan, setidaknya karena satu hal: membesar-besarkan, mendramatisasi, mengecilkan fakta, atau menyisihkan fakta-fakta tertentu. Audience disini diibaratkan sebagai TUMBAL, bukan dink.., maksudnya sebagai KORBAN dari tipu daya muslihat lembaga KOMERSIL dan kekuasaan.
       Oke, berat rasanya menyebutkan merek. Tapi seringkali kita tak dapat terlepas dari kecenderungan buruk sangka yang terlalu Lebay? Atau setidaknya, otak kritis kita sedang memikirkan hal itu. Jerry D. Gray seorang peneliti media mantan angkatan udara US Air Force dengan sangat baik dalam bukunya “Dosa-dosa Media Amerika” menyebutkan contoh tentang senjata pemusnah massal milik Sadam Hussein yang sesungguhnya tak lebih impian musin semi atau cerita musim gugur yang dikarang Bush Junior dengan bantuan kaki tangan media yang mendukungnya.
         Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kebanyakan para pejabat dan para publik figur atau artis-artis seringkali melakukan kebohongan publik. Mau dianggap demikian atau diabaikan oleh kita. Tetapi kenyataannya memang sering terjadi dan akan terus terjadi. Segala kebohongan bisa dilakukan untuk menarik simpati masyarakat. Nah, anehnya justru berita-berita demikian yang menjadi buruan para wartawan. Dan media tidak pernah harus merasa bersalah telah ikut menyebarkan kebohongan. Kemudian media juga tidak pernah menuntut para pejabat atau artis untuk meminta maaf kepada pembacanya. Setiap media memiliki agendanya sendiri, sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki. Visi-misi media massa adalah “company philoshopy” yang menjadi “basic values” yang harus ditaati para wartawan dalam menulis berita. “Nilai-nilai dasar” baik yang sifatnya ideologis, politis, maupun ekonomis, menjadi acuan dalam penyusunan “editorial policy” sebuah media. 
        Selain itu, wartawan tidak mungkin tidak subjektif dalam menulis berita. Persepsi wartawan tentang suatu peristiwa, baik dari sudut pandang jurnalistik (news value) maupun perspektif ideologisnya, sangat berpengaruh pada pilihan angle (sudut pandang) peristiwa yang ia tulis. Dari segi teknis, subjektifitas juga terjadi, ketika wartawan menentukan peristiwa yang harus diliput dan fakta yang harus dipilih dan dipilahnya dalam penulisan berita. Selanjutnya media juga ikut menyebarkan kebohongan public dengan memuat iklan-iklan promosi suatu produk dengan diskon yang wah dan iming-iming kehebatan produknya yang tidak sesuai kenyataan. Tak jarang banyak konsumen yang merasa tertipu dengan barang yang diiklankan. Demikianlah, semua pemberitaan media melalui proses tertentu yang “dibingkai” berdasaran agenda-media, sehingga menimbulkan pengaruh dan interpretasi tertentu dan menciptakan “opini publik” (public opinion). Opini publik itulah yang mengendalikan pemikiran dan sikap masyarakat terhadap isu tertentu. Oleh karena itu, jangan berharap ada objektivitas murni dalam sebuah berita media massa. Objektivitas di media massa adalah “objektivitas yang subjektif”.
         Hmm.. ini hanya sedikit catatan tanpa makna atas sebuah kegelisahan yang terjadi atas berita-berita tentang kebohongan publik akhir- akhir ini. Semoga ini adalah kesalahan saya dalam menulis, namun tanpa tujuan untuk membohongi publik..!

Sumber: http://romeltea.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar