Kamis, 21 Oktober 2010

iklan ku hot, iklan ku asyik

       Seiring dengan kemajuan jaman, dunia mengalami perubahan yang sangat pesat di berbagai bidang khususnya di bidang komunikasi dalam menyampaikan suatu informasi kepada khalayak. Dapat dikatakan bahwa saat ini kita hidup dan bekerja didalam masyarakat informasi. Kemajuan dalam penyampaian media informasi telah mengarah kepada penyatuan (konvergen) dari media yang konvensional dengan yang modern. Media menginformasikan perubahan secara berkala pada masyarakat global. Perubahan media mempunyai implikasi penting bagi industri media, gaya hidup individu, karir, kebijakan nasional, masalah sosial dan keseimbangan kekuasaan dalam masyarakat. Dengan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat terbuka di era ini, sangat memungkinkan banyak hal yang akan terjadi. Para ahli komunikasi mengatakan, media sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Media selalu mempunyai dampak pada diri seseorang atau sekelompok orang akibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dalam masyarakat yang sudah terlalu maju, kini media lebih mengacu pada penayangan informasi yang dibumbui dengan unsur seksualitas. Maraknya penayangan seksualitas yang dilakukan media akhir-akhir ini merupakan akibat pengaruh globalisasi.
          Seksualitas dalam media selalu dikaitkan dengan pornografi. Walaupun dalam program yang ditayangkan hanya sekedar ungkapan atau adegan yang tidak terlalu hot. Tapi hal itu malah menimbulkan rangsangan seksual bagi para pengkonsumsi media. Permasalahan pornografi menjadi pelik karena pertama, disangkutpautkan dengan yang mempunyai kandungan nilai seni. Kedua, menghadapi hak akan informasi. Dan ketiga, jaminan hak untuk memenuhi pilihan pribadi, nilai seni dan pendidikannya dianggap meragukan. Media mengisyaratkan bahwa seksisme menjadi simbol aktifitas terpenting manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Leslie Lazar Kanuk seorang pakar perilaku konsumen bahwa seks selalu menjadi tema yang terus meningkat dikarenakan seks merupakan hal yang paling mendasar dalam motif manusia. Kini seks bergeser secara revolusioner dari wilayah pribadi ke publi. Baudrillard menggambarkan, perkembangan produksi komoditas yang dirangkai dengan teknologi media informasi telah menggiring ke arah penghancuran ruang privat tersebut. Iklan sebagai salah satu media informasi bagi masyarakat. Di zaman segmentasi pasar dewasa ini, iklan menjadi media yang efektif karena memiliki sasaran yang spesifik. Namun secara tidak langsung iklan juga akan membawa pengaruh bagi kehidupan kita. Hotman Siahaan mengatakan bahwa iklan mempunyai dampak yang besar terhadap pola pemikiran dan pola konsumsi masyarakat, bahkan bisa menjadi racun bagi masyarakatnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa iklan berperan untuk memanipulasi kekaburan simbol dalam aktifitas yang tak henti-hentinya mencipta dan mencipta kembali makna yang dapat dikenakan pada barang komoditas. Iklan ternyata tidak sekadar menjual barang, merefleksikan dan berusaha mengubah gaya hidup kita dan iklan juga berarti seksualitas, keindahan, kemudaan, kemodernan, kebahagiaan, kesuksesan, status dan kemewahan (Wilson). Iklan terlalu menyederhanakan hidup, sehingga kita tidak melihat faktor-faktor lain yang bisa membuat hidup kita bahagia, faktor-faktor yang tidak memungkinkan hidup bahagia bahkan dengan membeli produk itu atau melihat ketidakbahagiaan yang justru disebabkan oleh pembelian produk itu (Jamieson Campbell).
      Adapun salah satu contoh adegan iklan yang menurut sebagian besar masyarakat sangat tidak pantas untuk ditampilkan bagi konsumsi masyarakat dikarenakan terlalu menonjolkan segi seksualitasnya, yaitu: Iklan Kopi Susu “YA” Dalam iklan tersebut ditampilkan visualisasi “keseksian“ Julia Perez (Jupe). Iklan itu memberi persepsi kepada audiens mengenai kopi campur “susu”. Gerakan erotis (body language) dari Jupe dengan background banyak laki-laki berbadan atletis (kesan seperti pekerja bangunan) menambah kesan bahwa nikmatnya “menyantap” kopi susu. Terlebih lagi di satu sesi terdapat pose dimana salah satu laki-laki tersebut membuka baju sambil pandangannya tertuju pada Jupe. Buat kaum adam, sosok Jupe memang sudah identik sebagai icon sexy dan hot. Begitu pula dengan aksi-aksi Jupe yang terdapat dalam iklan kopi susu “YA”. Walaupun tidak secara langsung, namun secara tidak sadar iklan tersebut terdapat unsur pornografi yaitu dalam cara dia berpakaian, dan adanya unsur pornoaksi ketika dia mengekspresikan gerakan dan mimik wajah pada saat dia mengiklankan produk tersebut. Selain itu, dalam iklan kopi susu “YA” tersebut Jupe memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak patut dipertontonkan dengan memakai pakaian yang bisa mengundang syahwat bagi audiens. Tidak hanya itu saja, saat Jupe mengatakan kopi \"susu\" yaa, Jupe seolah-olah menonjolkan buah dadanya dengan gayanya yang sensual dan menggoda. Sebaiknya iklan ini tidak ditayangkan atau diubah karena kurang layak dikonsumsi masyarakat yang bisa dilihat oleh seluruh kalangan, dimulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang bisa merusak moral bangsa kita.Dalam hal ini, iklan yang merupakan salah satu media informasi tidak hanya memiliki dampak langsung terhadap individu tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Iklan menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audiens untuk memilih dan menjadikan acuan bagi audiensnya.
       Seperti yang dituturkan oleh Douglas Kellner dalam bukunya Media Culture: Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Post Modern(1996), menunjuk pada suatu keadaan dimana tampilan audio dan visual atau tontonan-tontonan, telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari, mendominasi proyek-proyek hiburan, membentuk opini politik dan perilaku sosial, bahkan memberikan suplai materi untuk membentuk identitas seseorang (Maria Hartiningsih; 2003). Peran suatu iklan sangat besar dalam menentukan apa yang diinginkan oleh masyarakat dan juga sebaliknya. Oleh sebab itu, dalam memproduksi informasi, suatu iklan seharusnya memperhatikan kondisi komunikasi sebagai sasarannya (masyarakat). Iklan yang ingin berhasil menyampaikan pesan dengan tepat harus benar-benar mengenal masyarakat yang dituju. Tanpa hal tersebut, iklan tak akan berarti apa-apa dimata masyarakat.

sumber gambar: http//google.co.id

3 komentar:

Unknown mengatakan...

iklan sekarang kadang ga nyambung ama produknya...
iklan makanan tapi yang lebih menonjol malah tariannya...
iklan untuk anak kecil kadang-kadang ngajarin yang ga bener...
iklan yg nampilin seksualitas juga banyak yang keluar dijam2 aktif anak liat tipi...
ckckckckckckck iklan indonesia...

My Journey mengatakan...

wahhh..ini tugas yg dulu kan???buku kita bukan../??
Gud job ferdia...

Rezky Hudaya mengatakan...

yah...inilah negara kita...seksualitas selalu menjadi suatu hal yang sangat menarik
semakin dibasmi semakin banyak

Posting Komentar