![]() |
| http://www.google.co.id/images |
Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari, punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) dan konvensi (norma maupun pasar). Jika dipahami bahwa kultur adalah peta makna dan ideologi yang menjadi pola dalam merespon kondisi struktural, dan subkultur adalah bentuk simbolik yang dikembangkan kelompok tertentu untuk menegosiasikan posisinya dalam peta tersebut, cara baca di atas cenderung meletakkan yang kedua (baca: punk) sebagai yang kalah; di mana sebagai bentuk resistensi ia dicurigai mengalami mandul begitu ”keonaran” yang ditawarkannya justru mengandung nilai jual yang bekerja baik dalam perluasan pasar. Dalam konteks pengamatan yang demikian pula dibayangkan bahwa pada suatu ketika pernah ada pemaknaan punk yang otentik, yang setidaknya pernah berhasil ”mengganggu” dan pada waktunya diserap kembali oleh budaya dominan. Pemahaman dialektika kebudayaan yang cenderung menyederhanakan dan solutif inilah yang juga kerap dituduhkan pada subkultur lainnya dalam beragam tahap kelanjutannya.
![]() |
| http://www.google.co.id/images |
Sebagai fashion, atribut punk menjadi salah satu bagian dari trend mode yang paling ajeg direproduksi dan dikonsumsi oleh publik luas. Sebagai subkultur, punk harus terus menerus bernegosiasi dengan budaya yang semakin beragam dan dengan demikian dihadapkan dengan semakin rumitnya tantangan untuk menempuh aksi dan refleksi. Sebagai identitas, punk bisa dikenakan sebagai tampilan, diinternalisasi sebagai ideologi, dicangkokkan ke dalam bentuk lokal, diterjemahkan, ditularkan dan dipelajari, dipelintir untuk kepentingan sosial, ekonomi dan seterusnya. Sebagai nilai, idealisme DIY dan kesetaraan yang diusung punk menjadi salah satu yang paling sering ditonjolkan ketika kultur anak muda masa kini diperbincangkan.
Inilah gambaran kebudayaan populer (popular culture) yang kemudian menciptakan dialektika antara homogenisasi (penyeragaman) dan heterogenisasi (keragaman). Pertama, kebudayaan populer menawarkan keanekaragaman dan perbedaan ketika ia diinterpretasi ulang oleh masyarakat yang berbeda di lain tempat. Kedua, kebudaya populer dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citra yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, sehingga sukar kiranya dapat dipahami dalam kriteria homogenitas dan standardisasi baku.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/punk





0 komentar:
Posting Komentar