Istilah “Citizen Journalism” saat ini menjadi one of the hottest buzzword dalam dunia jurnalistik. Rasanya ketinggalan jaman kalau sampai ketinggalan kata-kata ini. Jika masih ada yang kurang mengenal dengan kata Citizen Journalism atau biasa disebut Jurnalisme Warga ini, sebenarnya sama saja dengan Public Journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis profesional. Disini jurnalisme dikembangkan dengan cara yang sederhana. Namun, bukan berarti jurnalisme warga tidak memiliki keakuratan dalam pemberitaan, justru malah terdapat kekuatan yang tidak akan pernah dimiliki oleh jurnalisme umum, yaitu jurnalisme warga memulai dari sesuatu yang tidak direncanakan. 
Selain itu, jurnalisme warga juga memiliki prinsip-prinsip yang secara umum sama antara komunitas-komunitas pengembangnya. Berikut ini adalah satu prinsip yang dikembangkan oleh Project for Excellence in Journalism (PEJ), sebuah komunitas pengembang jurnalisme warga, yaitu (Barlow, 2007: 181):
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah untuk kebenaran
2. Loyalitas pertama ditujukan pada warga
3. Inti dari disiplin jurnalisme warga adalah verifikasi
4. Setiap partisipan harus menjaga kemandirian
5. Berita yang diproduksi untuk memonitor kekuasaan secara mandiri
6. Harus menyediakan forum untuk publik, berdebat, berdiskusi, dan berkompromi
7. Harus ada yang diperjuangkan
8. Harus tetap menjaga setiap berita komprehensip dan proporsional
Prinsip-prinsip jurnalisme warga ini sangat berbeda dengan prinsip yang dikembangkan oleh para jurnalis profesional. Para jurnalis profesional diminta untuk menjaga jarak dengan para narasumbernya sehingga diasumsikan dapat menghasilkan sesuatu yang obyektif. Apa yang sedang dilakukan oleh jurnalisme warga adalah mengahapus jarak tersebut dengan mengambil alih jurnalisme dari profesionalitas dan mengembalikannya pada masyarakat, namun tetap menggunakan standar-standar dan kode etik.
Semua hal ini mungkin dilakukan karena jurnalisme warga tidak berdiri di bersebarangan dengan kehidupan masyarakat, melainkan secara langsung menyatu atau karena jurnalisme warga adalah masyarakat itu sendiri. Apa yang terjadi pada jurnalisme warga, yang merupakan penggabungan antara lembaga pers dengan masyarakat, akan memunculkan berita-berita dari perspektif dan kepentingan masyarakat (Barlow, 2007: 181).
Kritik paling utama menyangkut persoalan etika, akurasi, kredibilitas, atau pertanggungjawaban. Kritik ini tidak hanya muncul dari “lawan” jurnalisme warga, melainkan juga dari internal para jurnalis warga itu sendiri. Salah satu sebabnya adalah, pertama dalam soal etika, kebebasan tidak selalu diikuti oleh tanggungjawab.
Kedua dalam soal skill, tidak semua jurnalis warga memilki kemampuan jurnalitik. Walaupun perdebatannya bisa diperpanjang bahwa para jurnalis warga tidak memerlukan skill layakanya para profesional, namun minimal para jurnalis warga ini harus memiliki dan mematuhi kode etik dan perilaku yang sepantasnya (Dewi, 2008: 21). 



0 komentar:
Posting Komentar